Tanggal Posting

January 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Aktifitas


Ambil Beberapa Tulisan

1. Shalahuddin al Ayyubi

“Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ke tangan pasukan salib seperti halilintar yang menyambar para pemimpin Islam. Kota suci yang telah 500 tahun berada dalam naungan Islam, kini terampas. Dengan ribuan korban menjadi tumbal. Darah-darah yang menggenangi sudut-sudut kota, seakan tak hendak hilang aroma anyirnya. Hari itu, Jerussalem benar-benar tumpas.
Maka berkumpullah para ulama dan khalifah seluruh jazirah Arab. Mereka tak menyangka Jerussalem jatuh ke tangan pasukan salib. Kemudian terkumpullah beberapa khalifah negara Islam yang bersedia menyatukan kekuatan untuk merebut kembali Baitul Maqdis”

Judul: Sang Pembebas : Sholahuddin Al Ayyubi

Sumber kutipan tulisan: www.eramuslim.com

download *.pdf: Sholahuddin Al Ayyubi

 

***

2. Abu Bakar as-Siddik

“Masa (periode) pemerintahan Abu Bakr punya jati diri dan bentuknya sendiri yang sempurna, yaitu dalam hubungannya dengan masa Rasulullah sebelum itu dan dengan masa Umar sesudahnya, yang ditandai dengan suatu ciri khas. Masa Rasulullah adalah masa wahyu dari Allah. Allah telah menyempurnakan agama itu untuk umat manusia, telah melengkapinya dengan karunia-Nya dan dengan Islam sebagai agama yang dipilihkan-Nya untuk mereka.

Sedang masa Umar ialah masa pembentukan hukum yang dasar-dasarnya sudah ditertibkan dengan kedaulatan yang sudah mulai berjalan lancar. Sebaliknya masa Abu Bakr adalah masa peralihan yang sungguh sulit dan rumit, yang bertalian dengan kedua masa itu; namun berbeda dengan kedua masa itu. Bahkan berbeda dari setiap masa yang pernah dikenal orang dalam sejarah hukum dan ketertibannya serta dalam sejarah agama-agama dan penyebarannya.

Judul: Abu Bakr as-Siddik (Sebuah Biografi Dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi)

Penulis: Muhammad Husain Haekal

download *.pdf ABU BAKAR

***

 

3. Umar bin Khattab

“Umar dan Kedaulatan Islam

Dalam sejarah Islam, tak ada orang yang begitu sering disebut-sebut namanya – sesudah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam – seperti nama Umar bin Khattab. Nama itu disebut-sebut dengan penuh kagum dan sekaligus rasa hormat bila dihubungkan dengan segala yang diketahui orang tentang sifat-sifatnya dan bawaannya yang begitu agung dan cemerlang. Jika orang berbicara tentang zuhud — meninggalkan kesenangan dunia — padahal orang itu mampu hidup senang, maka orang akan teringat pada zuhud Umar. Apabila orang berbicara tentang keadilan yang murni tanpa cacat, orang akan teringat pada keadilan Umar.
Jika berbicara tentang kejujuran, tanpa membeda-bedakan keluarga dekat atau bukan, maka orang akan teringat pada kejujuran Umar, dan jika ada yang berbicara tentang pengetahuan dan hukum agama yang mendalam, orang akan teringat pada Umar. Kita membaca tentang itu semua dalam buku-buku sejarah dan banyak orang yang mengira bahwa hal itu dilebih-lebihkan sehingga hampir tak masuk akal, karena memang lebih menyerupai mukjizat yang biasa dihubungkan kepada para nabi, bukan kepada orang-orang besar yang sekalipun kehebatannya sudah terkenal.

Tak lain penyebabnya karena berdirinya Kedaulatan Islam itu pada masanya. Umar memimpin Muslimin menggantikan Abu Bakr sesudah selesai Perang Riddah, dan sesudah pasukan Muslimin harus menghadapi kekuatan Persia dan Rumawi di perbatasan Irak dan Syam. Ketika Umar wafat, di samping Irak dan Syam yang sudah bergabung ke dalam Kedaulatan Islam, kemudian juga meliputi Persia dan Mesir. Dengan demikian perbatasannya sudah mencapai Cina di sebelah timur, Afrika di sebelah barat, Laut Kaspia di bagian utara dan Sudan di selatan. Berdirinya Kedaulatan besar dalam sepuluh tahun itu sudah tentu merupakan suatu mukjizat. Mukjizat itu tampak sekali setelah kedua imperium besar, Rumawi dan Persia yang berkuasa masa itu, bertekuk lutut di tangan Arab yang selama bertahun sebelum itu saling bermusuhan, tak pernah tenang dan tak pernah hidup tenteram.”

Judul: Umar bin Khattab (Sebuah telaah mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu)

Penulis: Muhammad Husain Haekal

download *pdf UMAR BIN KHATTAB

***

 

4. Ali bin Abi Thalib

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir, sejak terbai’atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid, bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah. Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: “Ada dua fihak yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala kebohongan tentang diriku.”

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: “Ada segolongan orang yang demi cintanya kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka.”

Judul: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a

Penulis: H.M.H. ALHAMID ALHUSAINI

download *pdf  Ali bin Abi Thalib

***

 

5. Sejarah Gerakan Theosofi di Indonesia

“Buku ini menguak peran historis Gerakan Theosofi di Indonesia. Di balik tuduhan Gerakan Theosofi adalah bagian dari konspirasi Yahudi, dihubungkan dengan isu-isu aktual termasuk isu neolib, ternyata Teosofi memberikan nuansa bagi cikal bakal sejarah pluralisme di Indonesia, yakni dengan mengikutsertakan semua unsur (pribumi, Eurasia, Belanda totok, dan Cina). Lebih jauh lagi, Gerakan Teosofi berkontribusi dalam penciptaan nasionalisme dan kemunculan elit modern Indonesia lantaran persentuhannya dengan gerakan pendidikan, gerakan politik, dan gerakan wanita…”

 

Judul: Sejarah Gerakan Theosofi di Indonesia: Persentuhannya dengan Elit Modern Indonesia

Penulis: Artawijaya

Sumber kutipan tulisan: www.eramuslim.com

download *.pdf:  Sejarah Gerakan Theosofi di Indonesia

***

 

6. Kritik dan Solusi Syiah di Indonesia

“Nabi Muhammad SAW: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”. (Dikutip oleh
K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi, hal.7).”

Judul: Kritik dan Solusi Syiah di Indonesia

Penulis: Adian Husaini

Sumber kutipan tulisan: www.adianhusaini.com

download *.pdf Kritik & Solusi Syiah di Indonesia

***

6. Hakekat Hizbullah

“Di antara sepak terjang yang paling mengagumkan bagi mayoritas kaum muslimin, khususnya beberapa tahun belakangan ini adalah sepak terjang Hizbullah dan pemimpinnya: Hasan Nasrallah. Hasan Nasrallah bahkan dijuluki oleh majalah Newsweek Amerika Serikat sebagai tokoh yang paling kharismatik di dunia Islam, plus yang paling berpengaruh bagi mayoritas kaum muslimin.

Pun demikian, ulama dan cendekiawan muslim memiliki pendapat yang bermacam-macam dan bertolak belakang dalam menilai Hizbullah dan Hasan Nasrallah sebagai pemimpinnya. Di antara mereka ada yang membelanya mati-matian hingga menjuluki Nasrallah sebagai Khalifah kaum muslimin. Tapi ada pula yang menyerangnya habis-habisan hingga mengeluarkan Hizbullah dari Islam secara keseluruhan, dan masih puluhan pendapat lagi yang berkisar di antara dua penilaian tadi..”

Judul: Hakekat Hizbullah

Penulis: Dr. Ragheb As Sirjani

Penyusun: Ustadz Sufyan Basweidan, MA

Sumber kutipan tulisan: www.muslim.or.id

download *.pdf Hizbullah